Posts

Jokowi, Si Angin Segar untuk Moncong Putih

    Duet “Banteng” dan “Garuda” akhirnya berhasil mengantarkan pasangan Jokowi-Ahok menduduki kursi DKI-1. Pasangan nusantara yang pada saat kampanye dihantam dengan terpaan isu SARA ini ditasbihkan sebagai pemenang dalam hitung cepat ( quick count ) sejumlah lembaga survei. Meski selisihnya tipis, yaitu sekitar   57% untuk Jokowi-Ahok dan 47% untuk Foke-Nara. Namun, belajar dari hasil quick count putaran pertama lalu, angka tersebut tidak akan berbeda jauh. Kemenangan Jokowi-Ahok sejatinya simbol kemenangan warga Jakarta yang merindukan perubahan. Masyarakat Jakarta yang didominasi kelas menengah cenderung memiliki pilihan yang realistis. Janji manis, politik uang ( money politic ), serta koalisi antar partai yang cenderung pragmatis tak mampu membendung figur Jokowi-Ahok yang dinilai sukses memimpin daerahnya masing-masing. Kemenangan Jokowi tentunya bisa dijadikan pelajaran bagi partai politik di Indonesia, terutama PDI Perjuangan (PDIP). Mengapa penulis me...

Mematahkan Pewarisan Kekerasan

Dunia pendidikan kembali berduka, tawuran pelajar antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Senin lalu (24/09/12) mengakibatkan seorang siswa didik meninggal dan tiga lainnya luka-luka. Dua hari berselang, dua orang siswa kembali tewas saat tawuran di Manggarai dan kawasan Halim. Kondisi yang ironis, disaat pemerintah tengah gencar meningkatkan mutu pendidikan, masalah kekerasan yang selama ini menjadi potret kelam pendidikan nasional seakan masih belum mendapatkan perhatian khusus dari para pemangku kepentingan ( stakeholders ). Sekolah seharusnya nyaman dan menyenangkan, karena hanya dalam lingkungan seperti itulah proses belajar-mengajar bisa berjalan dengan baik. Bahkan, untuk memunculkan kesan menyenangkan tersebut, Ki Hajar Dewantara menggunakan istilah Taman Siswa saat merintis sekolah bagi penduduk pribumi di tahun 1922. Namun sekarang, rupanya api semangat untuk mewujudkan pendidikan yang nyaman dan menyenangkan sudah padam. Sekolah, yang seyogyanya menjadi salah satu agen pe...

Kurikulum dan Pendidikan Karakter

Wacana mengenai perubahan kurikulum pendidikan di tingkat SD sampai SMA terus digulirkan oleh pemerintah. M. Nuh selaku menteri pendidikan, dalam beberapa kesempatan menilai kalau kurikulum yang saat ini digunakan, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) perlu direvitalisasi sehingga sesuai dengan perkembangan zaman (Kompas, 05/09/12). Bahkan, mantan rektor ITS tersebut menduga kalau ketidaksesuaian kurikulum yang saat ini diterapkan telah menyebabkan pembangunan karakter bangsa masih jauh dari harapan. Sehingga, jajaran Kemendikbud merasa perlu mengevaluasi kembali kurikulum yang digunakan semenjak tahun 2006 tersebut. Pihak Kemendikbud pun sudah merencanakan penggantian KTSP secepatnya pada tahun 2013 mendatang. Bahkan, DPR telah menyiapkan Panitia Kerja (Panja) untuk membahas mengenai kurikulum tersebut tahun ini. Masalah kurikulum sendiri dalam sistem pendidikan kita memang masih menyisakan polemik hingga kini. Kurikulum selalu berubah dan masih belum membawa pr...

Menjual Ani Yudhoyono

Pewacanaan mengenai Kristiani Herrawati atau yang akrab dipanggil Ani Yudhoyono untuk menggantikan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada pemilu presiden 2014 mendatang mulai ramai diperbincangkan. Munculnya kembali nama ibu negara sebagai figur capres dari parta Demokrat tentu bukanlah sekedar celoteh beberapa internal partai Demokrat saja. Pewacanaan Ani kepublik pastilah sudah ditimang dengan cermat. Minimnya kader Demokrat pasca SBY dan terpaan badai korupsi yang melanda partai biru tersebut memaksa partai Demokrat mencari sosok baru yang mampu menaikkan elektabilitas partai. Meskipun SBY sendiri sudah terang-terangan menyatakan istrinya tidak akan maju pada pilpres 2014, namun menurut penulis, terobosan nama  Ani adalah sebuah upaya bagi kubu SBY untuk menjaga tiga kepentingannya, yaitu: suara Demokrat 2014, calon pro-Cikeas, dan memangkas kemungkinan Anas Urbaningrum untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Mengamankan suara Demokrat Terkuaknya kasus ko...

Sang Perintis Madagaskar

--> Madagaskar, mendengarnya kita pasti akan langsung teringat dengan sekumpulan binatang-binatang seperti Singa, Zebra, Jerapah, serta Kudanil yang berusaha melarikan diri dari kungkungan kebun binatang di kota New York dan akhirnya terdampar di sebuah pulau sebagaimana yang digambarkan oleh film bertajuk “Madagaskar”. Madagaskar sendiri merupakan sebuah negara pulau yang terletak 8000 km di sebelah Barat Daya Indonesia. Pulau yang terkenal dengan julukan “Great Red Island” ini pernah menjadi daerah jajahan Perancis dan baru merdeka pada tahun 1960. Tidak banyak yang tahu mengenai Madagaskar sebagai sebuah negara, termasuk asal usul penduduk negara pulau yang terletak di Samudera Hindia tersebut. Orang Eropa yang pertama kali melihatnya adalah kapten Diogo Dias asal Portugis. Dias tak sengaja sampai ke Madagaskar karena kapalnya berubah haluan ditiup angin ketika hendak menuju India pada tahun 1500. Kapten kapal asal Portugis tersebut kemudian menamai Madagaskar St. Lawre...