Posts

Memaksimalkan Peran Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Swasta dalam Menciptakan Inovasi Daerah

Image
Dalam pergaulan internasional dewasa ini, antara negara yang satu dengan lainnya seakan tak ada lagi sekat pemisah ( borderless ). Berbagai kerjasama baik bilateral maupun multilateral dibentuk oleh negara-negara di dunia. Akhirnya berbagai kerjasama di berbagai bidang dari mulai politik, ekonomi, hingga pertahanan dan keamananan seakan menjadi sebuah keniscayaan. Muara dari semua bentuk kebijakan lintas negara ini utamanya adalah menyangkut usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini didorong oleh kebutuhan ekonomi yang menuntut adanya ketersediaan bahan baku dan pasar yang lebih luas. Sulit rasanya bila kedua hal ini dilakukan oleh masing-masing negara dalam cakupan nasional tanpa melibatkan masyarakat internasional. Untuk itu dilakukanlah kerjasama antar negara yang kemudian menyebabkan arus keluar masuk barang dan jasa “dari dan ke” negara lain begitu bebas dan terbuka. Secara umum, kebijakan ini memang mampu mengatasi adanya keterbatasan bahan baku dan pasar yang dim...

Karut-Marut Beasiswa

Belum lama ini, Presiden SBY menghadiahi beasiswa kepada Raeni, anak tukang becak yang menjadi lulusan terbaik di kampusnya (Kompas, 13/6/2014). Kabar ini tentu menggembirakan bagi Raeni dan memantik asa jutaan pelajar dan mahasiswa untuk bisa merasakan hal yang sama, yakni mendapatkan beasiswa pendidikan. Tapi taukah kita, termasuk presiden SBY, bahwa saat ini pengelolaan beasiswa masih karut-marut dan justru memberatkan para penerimanya. Salah satunya adalah beasiswa unggulan yang saat ini dikelola oleh Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri (BPKLN) Kemdikbud. Informasi dari Kemdikbud menyebutkan bahwa persoalan ini bukanlah karena ketiadaan anggaran, melainkan adanya gangguan dalam aplikasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) di Kemenkeu. SPAN ini sendiri merupakan proyek ambisius pemerintah untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara secara terintegrasi untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas keuangan negara. Sayangnya, proyek yang telah digagas sej...

Belajar dari Kepemimpinan Soekarno

Pada kesempatan ini, saya kembali menawarkan Soekarno, presiden pertama RI sebagai contoh pemimpin yang menurut saya memiliki banyak kesamaan dengan berbagai perspektif yang telah didiskusikan dalam perkuliahan selama ini. Bukan berarti presiden yang lain tidak layak menyandang predikat good leader atau success leader , hanya saja Bung Karno memiliki lebih banyak ciri untuk membantu kita memahami studi tentang kepemimpinan. Menurut Deborah Ancona, dkk (2007), dalam studinya bertajuk “In Praise of the Incomplete Leader” ada empat kemampuan dasar yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu: sensemaking, visioning, relating, dan inventing. Sensemaking merujuk pada kemampuan seseorang untuk memahami lingkungan sekitarnya dan perubahan yang menyertainya. Pemimpin mesti mampu membaca situasi dan melihat tantangan yang akan dihadapi organisasinya di masa mendatang. Dalam hal ini seseorang mesti mampu meyakinkan followers -nya bahwa segala bentuk perubahan yang akan dihadapi ...

Waspadai PTN Badan Hukum

Hasrat dari perguruan tinggi negeri eks Badan Hukum Milik Negara untuk memperjuangkan otonomi kampus akhirnya terkabul. Empat PTN, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), akhirnya menjadi PTN badan hukum setelah statuta keempat PTN tersebut disahkan oleh presiden pada Oktober lalu (Kompas, 23/10/13). Selanjutnya, empat PTN lain, yakni Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) akan menyusul kemudian. Masih jauh dari harapan PTN badan hukum merupakan solusi yang dipilih pemerintah untuk memberikan kejelasan status bagi PTN yang dulu menyandang predikat BHMN. Hal ini karena pasca-dibatalkannya UU No 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) oleh Mahkamah Konstitusi, praktis PTN BHMN tidak memiliki payung hukum lagi. Sebab PP No 61/1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Badan Hukum sudah tidak berlaku set...

Pendidikan Informal dan Kenakalan Anak

Kecelakaan maut di tol Jagorawi yang melibatkan putra bungsu Ahmad Dhani pada Minggu (8/9/2013) dini hari menyisakan duka yang mendalam sekaligus pelajaran berharga bagi para orang tua dalam memberikan edukasi kepada anaknya. Dul begitu sapaan akrabnya, dikabarkan kehilangan kendali sewaktu mengendarai mobil sedan dengan kecepatan tinggi dan menyebabkan tabrakan maut. Berbagai argumen pun mengemuka, terutama mempertanyakan bagaimana anak usia 13 tahun diijinkan mengemudikan mobil dan berada di luar rumah hingga larut malam. Meskipun Ahmad Dhani menyatakan bahwa kecelakaan yang melibatkan anaknya menjadi tanggung jawab bersama antara negara dan orang tua, tapi tetap saja kontrol orang tua terhadap anak yang masih di bawah umur (kurang dari 18 tahun) memegang peranan penting. Pendidikan keluarga dan lingkungan menjadi faktor dominan dalam membangun karakter anak. Sebab, pertama kali seorang anak mengenal dunia adalah melalui orang tuanya dan akan terus mendapatkan pengaruh dari ...

Jerat Akreditasi

Gelar akademik merupakan salah satu kebanggaan bagi mereka yang telah merelakan materi, waktu dan pikiran selama bertahun-tahun di perguruan tinggi. Aspek legalitas dalam menimba ilmu bahkan menjadi penanda status sosial seseorang di masyarakat. Namun, apa jadinya bila ijazah sebagai penanda kaum terpelajar tidak diakui kebasahannya oleh negara. Bukankah tidak ada lagi pembeda antara mereka yang mengenyam pendidikan formal dan informal. Fenomena ini menyeruak, lantaran kebijakan pemerintah soal akreditasi satuan pendidikan. Pasal 60 ayat (1) UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa akreditasi merupakan upaya untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non-formal. Policy  ini lahir dengan semangat menjamin tersedianya layanan pendidikan yang berkualitas bagi warga negara yang kewenangannya melekat pada Badan Akreditasi Nasional (BAN S/M, BAN PT, dan BAN PNF). Namun cita-cita mulia ini masih jauh pangg...

Bangkitkan Kultur Membaca

“Kenyataan-kenyataan yang kulihat dalam duniaku yang gelap hanyalah kehampaan dan kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri ke dalam apa yang dinamakan orang Inggris 'Dunia Pemikiran'. Buku-buku menjadi temanku.” (Soekarno).             Bung Karno, sebagai salah satu  founding fathers begitu menaruh perhatian besar pada dunia baca, dunia yang oleh orang Inggris dikatakan sebagai ‘dunia pemikiran’, dunia yang membawanya berkenalan dengan tokoh-tokoh besar. Sehingga membuka cakrawala dan menyadarkannya akan pentingnya Indonesia merdeka. Tak hanya Soekarno, golongan cendekia pada masa itu umumnya berkawan baik dengan buku, bahkan ketika harus diasingkan, seperti Hatta, Sjahrir hingga Tan Malaka.             Namun, bagaimana dengan minat baca masyarakat kita saat ini. Dari 38 negara yang disurvei oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2...