Posts

Menantang Dahlan Iskan

Belakangan menteri Dahlan ramai berkicau di media massa ihwal banyaknya anggota DPR yang kerap meminta upeti kepada BUMN. Masa reses para wakil rakyat di Senayan-pun diwarnai rasa penasaran khalayak, mengenai siap-siapa saja anggota dewan yang dimaksudkan oleh juragan Jawa Pos Grup tersebut. Reaksi pun bermunculan, sejumlah politisi senayan kebakaran jenggot. Wakil ketua komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Effendi Simbolon sempat menyerang balik dengan mengatakan kalau Dahlan pernah melakukan inefisiensi sebesarRp37 triliun sewaktu memimpin PLN. Namun rupanya khalayak berdiri tegak di belakang pak menteri. Badan Kehormatan (BK) akhirnya mengagendakan pemanggilan terhadap Dahlan Iskan pada Senin lalu (5/11/12) guna mengklarifikasi statement Dahlan di media massa. Publik pun begitu menantikannya, rasa penasaran semakin membuncah, siapa sebenarnya 10 nama yang sudah dikantongi oleh menteri negara BUMN tersebut? Antiklimaks Namun kedatangan Dahlan ke DPR pada Seni...

Refleksi Kaum Muda

"Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia !!",  Begitulah kira-kira ucapan heroik Soekarno, sang proklamator, untuk menegaskan betapa hebatnya kaum muda. Kalimat ini kiranya tak sekedar jargon atau pepesan kosong belaka. Sejarah telah membuktikan bahwa pemuda selalu memegang peranan penting dalam perubahan. Soekarno dan rekan-rekan seperjuangannya bahkan telah membuktikan, bahwa ditangan kaum mudalah, kemerdekaan bisa direbut. Generasi 45 merupakan generasi emas republik ini. Merekalah yang memelopori transformasi bentuk perjuangan di nusantara, dari perlawanan fisik menjadi perlawanan intelektual. Pemuda yang saat itu mulai mengenyam pendidikan dapat mengkonversikan perbedaan dan ego kelompok menjadi persatuan. Sumpah pun diikrarkan, kesamaan dikedepankan, dan kemerdekaan menjadi hal yang tak bisa ditawar. Selanjutnya, “merdeka atau mati” dan “merdeka 100 persen” menjadi bara pengobar perlawanan di seantero nusantara. Setiap zaman ada orang...

Jokowi, Si Angin Segar untuk Moncong Putih

    Duet “Banteng” dan “Garuda” akhirnya berhasil mengantarkan pasangan Jokowi-Ahok menduduki kursi DKI-1. Pasangan nusantara yang pada saat kampanye dihantam dengan terpaan isu SARA ini ditasbihkan sebagai pemenang dalam hitung cepat ( quick count ) sejumlah lembaga survei. Meski selisihnya tipis, yaitu sekitar   57% untuk Jokowi-Ahok dan 47% untuk Foke-Nara. Namun, belajar dari hasil quick count putaran pertama lalu, angka tersebut tidak akan berbeda jauh. Kemenangan Jokowi-Ahok sejatinya simbol kemenangan warga Jakarta yang merindukan perubahan. Masyarakat Jakarta yang didominasi kelas menengah cenderung memiliki pilihan yang realistis. Janji manis, politik uang ( money politic ), serta koalisi antar partai yang cenderung pragmatis tak mampu membendung figur Jokowi-Ahok yang dinilai sukses memimpin daerahnya masing-masing. Kemenangan Jokowi tentunya bisa dijadikan pelajaran bagi partai politik di Indonesia, terutama PDI Perjuangan (PDIP). Mengapa penulis me...

Mematahkan Pewarisan Kekerasan

Dunia pendidikan kembali berduka, tawuran pelajar antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Senin lalu (24/09/12) mengakibatkan seorang siswa didik meninggal dan tiga lainnya luka-luka. Dua hari berselang, dua orang siswa kembali tewas saat tawuran di Manggarai dan kawasan Halim. Kondisi yang ironis, disaat pemerintah tengah gencar meningkatkan mutu pendidikan, masalah kekerasan yang selama ini menjadi potret kelam pendidikan nasional seakan masih belum mendapatkan perhatian khusus dari para pemangku kepentingan ( stakeholders ). Sekolah seharusnya nyaman dan menyenangkan, karena hanya dalam lingkungan seperti itulah proses belajar-mengajar bisa berjalan dengan baik. Bahkan, untuk memunculkan kesan menyenangkan tersebut, Ki Hajar Dewantara menggunakan istilah Taman Siswa saat merintis sekolah bagi penduduk pribumi di tahun 1922. Namun sekarang, rupanya api semangat untuk mewujudkan pendidikan yang nyaman dan menyenangkan sudah padam. Sekolah, yang seyogyanya menjadi salah satu agen pe...